Siapa raja ‘low-cost airline’ di Asia Tenggara?

6 SE LCCAirAsia, pasti banyak yang sudah akrab dengan nama ini. AirAsia sangat fenomenal sebagai pendobrak awal pintu low-cost carrier (LCC) alias penerbangan berbiaya hemat. Lion Air, nama inipun juga tak kalah populer dengan tiket murah sepanjang waktu. Kemudian ada Cebu Pacific dari Philippina, disusul VietJet Air dari Vietnam yang terkenal dengan pramugari berbikini. Tapi bagaimana dengan Scoot? Airline hasil merger antara Scoot & Tiger Air ini mungkin masih terdengar asing bagi kebanyakan traveler di Asia Tenggara. Dari Indonesia lagi, Citilink Indonesia bermain di pasar penerbangan murah. Keenamnya lahir dan beroprasi di Asia Tenggara, terus siapa penguasa pasar low cost carrier di kawasan ini? Continue reading

Advertisements

Yuk… Rame-rame terbang ke Bandung

Dulu di awal-awal saya tinggal di Bandung, airline yang terbang dari dan ke Bandung bisa dihitung jari. Hanya ada Merpati & Bouraq. kemudian muncul Pelita Air, Citilink dan Sriwijaya Air. Dari keempatnya itu Bouraq Airlines menutup penerbangannya, di susul Pelita Air dan Citilink. Hingga tinggallah Merpati yang tetap setia. Sepinya penerbangan di Husein Sastranegara ini bertahan lama hingga akhirnya AirAsia mulai melirik kemolekan Bandung dengan membuka rute Bandung Kuala Lumpur. Rute Bandung Kuala Lumpur dapat disebut sebagai tonggak bersejarah mulai meriahnya penerbangan dari dan ke Bandung. Sesudah rute bersejarah itu, makin banyak rute-rute lain yang dibuka di Bandung, termasuk rute Air Asia yang terus berkembang dari kota ini. Bandung sendiri sejatinya bukan menjadi jaminan peruntungan untuk airline lain yang mencoba masuk ke Bandung. Beberapa airline harus menutup layanannya ke Bandung seperti Deraya, Malaysia Air, Firefly, Pelangi Air.

Gairah pembukaan rute ke Bandung pernah tersendat cukup lama karena proses overlay landasan bandara Husein Sastranegara yang berlarut-larut. Airline menunggu bandara agar siap diterbangi dengan pesawat sekelas Airbus 320. Sebelum overlay rampung bandara ini hanya bisa didarati pesawat maksimal Boeing 737-300 saja. Overlaypun rampung, dan setelahnya seakan lepas dari tali pacu airline-airline kompak beramai-ramai menjadikan Bandung sebagai destinasi penting layanannya. Rampungnya proses overlay ini menjadi tonggak kedua ramainya penerbangan seperti sekarang ini. Continue reading

Jalur udara Surabaya-Bandung akan makin ramai

Mulai Februari 2012 ini bisa jadi bandara Husein Sastranegara menjadi lebih padat dari biasanya, pasalnya ada 2 rute mulai dibuka dari Bandung ke Surabaya. Adalah Garuda Indonesia yang akan menerbangi Surabaya-Bandung sehari sekali mulai 10 Februari 2012. Empat hari kemudian, Indonesia Air Asia juga menghubungkan kedua kota ini, juga dengan jadwal sekali sehari. Sebelum ini, Merpati Nusantara sudah terbang dari Bandung, disusul Sriwijaya Air dan Wing Air (via Jogja). Jauh sebelumnya Pelita Air dan Citilink juga pernah membuka di rute ini. Continue reading

Ayo, pilih Citilink atau Indonesia AirAsia?

Kedua airline ini sama-sama sebagai low cost carrier, penerbangan dengan layanan minimum. Sama-sama tidak menawarkan makan-minum gratis. Ke depan, keduanya juga akan menerbangkan pesawat yang sama, yakni Airbus 320. Juga lebih banyak menerbangi rute point to point. Baik Citilink maupun Indonesia Air Asia kerap menggelar promo. Kendati berbeda, Indonesia Air Asia dengan warna merah dan Citilink dengan warna hijau pupus, keduanya sama-sama berwana cerah. Pramugarinya juga muda-muda dan energik. Tiketnya juga sama-sama bisa dibeli online. Sama-sama hanya menawarkan kelas ekonomi dengan penerbangan jarak pendek. Karena berkonsep sama layanan keduanya memang sangat mirip. Namun sejatinya tetap ada pembeda diantara keduanya. Jadi, pilih Citilink atau Indonesia Air Asia? Continue reading

Airline Indonesia, ekpansif dan makin muda

‘Lion Air memborong 230 Boeing 737’, itulah judul berita yang cukup heboh di akhir Sept 2011. Betapa tidak transaksi ini sontak menjadi sorotan dunia karena disaksikan oleh Presiden Obama melakukan kunjungan kerja di Bali. Angka 230 sangat fantastis dan merupakan transaksi terbesar bagi Boeing dalam hal jumlah pesawat. Komentar miring muncul dari seteru Boeing, Airbus, yang menyatakan transaksi tersebut disinyalir terkandung muatan politis dan tekanan. Kiprah Lion Air sendiri begitu mencengangkan di saat order 178 pesawat sebelumnya baru akan sampai di tanah air 2016 nanti. Dan itulah faktanya, airline Indonesia sangat ekpansif. Meskipun tidak sebanyak Lion Air, Garuda juga mengantungi order B737NG dan B777. Sriwijaya Air dengan B737NG dan Embaraer-nya. Indonesia Air Asia dengan A320. Citilink juga dengan A320.  Continue reading