Review : Bak tuan tanah Belanda di Hotel Kresna Wonosobo

IMG_5226Dalam perjalanan ke Dieng, saya singgah dulu di Wonosobo. Kota sejuk ini menjadi pilihan pelancong sebelum mendaki ke Dieng karena banyaknya pilihan akomodasi di kota ini. Salah satunya adalah Hotel Kresna Wonosobo. Hotel bintang 4 satu-satunya di Wonosobo ini sejatinya merupakan hotel heritage, dan cagar budaya. Pertama kali menerima tamu saat masih bernama Hotel Dieng di tahun 1917, jauh sebelum Indonesia merdeka. Tahun depan hotel ini akan berumur 100 tahun. Luar biasa. Berarsitektur kolonial hotel ini menawarkan pengalaman menginap yang jauh berbeda dibanding hotel-hotel baru. Berlokasi di jantung kota, dekat aloon-aloon Wonosobo. Memiliki halaman luas dan terdiri beberapa blok bangunan berlantai 2. Dan berikut cerita selengkapnyaDari depan, hotel ini tak terlalu tampak kuno, namun begitu memasuki area lobby kesan heritage mulai terlihat. Bangunan tertua berada di belakang lobby yang saat ini difungsikan sebagai restoran. Ubin yang digunakan masih asli, dengan warna khas bangunan jaman Belanda dulu. Langit-langitnya tinggi dan tetap sejuk meskipun tanpa pendingin udara. Saat saya datang tak tampak banyak tamu yang datang, hanya terlihat 2 bus rombongan turis Jerman.

IMG_5213Kamar Tidur. Begitu memasuki kamar, kesan kuno kian kental. Betapa tidak, kunci kamar masih manual, belum berupa kartu akses. Perlu waktu beberapa saat untuk sekedar mencari panel lampu. Perabotan termasuk kuno, tapi saya yakin bukan peninggalan Belanda dulu. Ada satu set tempat tidur dengan nakas dan lampu di kiri kanan. Plafon kamar berdesain lama, begitu juga dengan jendela besar di sisi luar kamar. Jendela berlapis dua tanpa korden. Pintu jendela kayu di sisi luar dan berbahan kaca di sisi dalamnya. Lantainya dibiarkan alami tanpa karpet. Penataan lampu tidak cukup efesien sehingga cahaya yang dihasilkan hanya sekedar temaram saja. Lemari baju pun juga tampak antik. Yang unik adalah colokan listrik yang harus membuka penutup sebelum digunakan. Kualitas kasur dan bantal tidak cukup bagus. Sementara selimut tetap ditata dengan cara lama, selimut dilapir 2 lembar linen, bukan berbentuk quilt bercover.

IMG_5217Kesan kuno juga didapati saat masuk kamar mandi. Closet meskipun menggunakan merk yang biasa digunakan hotel lain, tapi menggunakan model lama. Kaca di depan wastafle dibingkai kayu menambah kesan antik. Terdapat fasilitas air panas dengan katup terpisah, perlu perasaan untuk mendapatkan komposisi air hangat yang pas. Tempat pancuran dipisah dengan pintu tarik model lama. Lihat juga botol sabun cair dan shampoo, masih dengan desain lama. Handuk disediakan tak terlalu baru memang, tapi masih cukup putih. Semua perlengkapan kamar mandi ini bukan bawaan jaman Belanda dulu, hanya masih menggunakan barang-barang lama.

Jika malam hari tiba, nikmati iringan gamelan Jawa lengkap dengan pesindennya. Mereka tampil tidak lama memang, tapi cukup untuk menggenapi suasana Jawa di tanah Wonosobo. Fasilitas lain berupa kolam renang, restoran, dan beberapa fasilitas standar lainnya.

Dan seperti biasa, hotel-hotel tua selalu dibumbui dengan cerita-cerita seram. Entah benar atau tidak, yang pasti hotel ini sangat tenang untuk beristirahat.Bagi pecinta sejarah dan arsitektur, hotel ini layak untuk dipertimbangkan. Secara keseluruhan rating 7/10 untuk hotel ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s