Tiga malam di Manila. Seru juga

Jeepney Manila
Jeepney @ Makati City Manila

Indonesia dan Philippine memang bertetangga langsung, namun hubungan bisnis keduanya tidak terlalu dekat, setidaknya jika dibandingkan dengan hubungan Indonesia dengan Malaysia, Singapore, dan Thailand. Hal serupa juga terdapat di industri wisata. Philippine belum menjadi tujuan wisata pelancong Indonesia, turis dari Philippine masih teramat sedikit yang berlibur di Indonesia. Jauhnya hubungan kedua negara ini juga terlihat dari airline yang menerbangi kedua-nya. Jakarta-Manila hanya disambungkan oleh Philippines Airline dan Cebu Pacific. Sementara belum ada airline Indonesia yang menerbangi rute Jakarta-Manila ini. Rute kedua negara lain yang dulu terhubung adalah Manado-Davao yang diterbangi oleh Wings Air.

Awalnya saya juga tidak cukup minat untuk melancong ke Manila, tapi merasa teramat sayang ketika Cebu Pacific menawarkan tiket murah untuk terbang ke Manila. Bayangkan saja tiket satu jalan ditawarkan hanya 49 dollar, dan jika ditambah ‘fuel surcharge’ dan administrasi jatuhnya sekitar 65 dollar. Sangat murah untuk ukuran terbang selama 3 jam 40 menit.

Airport. Metro Manila memiliki 2 airport. Satu berada di tengah kota Ninoy Aquino International Airport (NAIA) dan satu lagi berada di luar kota, yang dinamai Clark. Cebu Pacific mendarat di Ninoy Aquino International Airport yang sangat dekat dengan Manila, dan tidak seperti Air Asia yang menggunakan bandara Clark yang berjarak 80km dari Manila. Philippines Airline menggunakan Terminal 2 sedangkan Cebu Pacific menggunakan Terminal 3 yang lebih baru dan modern bersama AirPhil Express. Penerbangan saya mendarat pukul 5 pagi waktu Manila atau puluk 4 pagi WIB. Jadwal yang tidak menarik karena checkin hotel biasanya dimulai jam 14 siang hari. Makati City saya pilih sebagai tempat tinggal selama di sana, distrik paling bagus dan sangat dekat dengan bandara, cuma 14 menit tanpa kemacetan. Seperti halnya di Indonesia Airport tax masih dikutip terpisah di luar harga tiket, untuk NAIA harus membayar 550 peso dan mereka menyebutnya Terminal Fee.

Berkunjung ke Manila sebenarnya tidak merasa ‘asing’ buat saya, disamping wajah-wajahnya yang mirip orang Indonesia, wajah kotanya tak jauh berbeda. Mobil buatan Indonesia (Innova & Avanza) banyak terlihat di jalanan Manila. Kesamaan lain lebih mengental saat mengunjungi mall yang ada di sama, merk-merk global yang ada di Jakarta juga ada di sana. Mungkin yang lebih membedakaan kedua kota ini adalah MRT & LRT. Bagaimanapun Manila sudah jauh lebih maju dibandingkan Jakarta untuk 2 hal ini. Mereka memiliki 1 jalur MRT dan 2 jalur LRT. Sayapun sangat ingin mencoba angkutan umum ini. Ups…. MRT di Manila ini secara fisik sangat beda dengan MRT di Singapore , Bangkok atau London. Gerbongnya lebih sempit dan dalam satu rangkaian terdiri beberapa sub rangkaian yang masing-masing terdiri 2 gerbong. Jadi penumpang tidak bisa berjalan dari gerbong depan ke belakang (bisanya hanya untuk setiap 2 gerbong). Lebih mirip desain monorail yang disambung-sambung. Bentuk stasiunnya juga sangat sederhana bahkan di Ayala Station yang merupakan stasiun paling besar kondisinya masih jauh lebih bagus Stasiun Gambir. Saat saya membeli tiket, vending machine yang menjual tiket sedang tidak berfungsi, jadi tetap antri di loket seperti halnya naik Commuter line Jakarta. Yang mengherankan harga tiket sekali jalan untuk jarah terjauh terbilang sangat murah, yakni sebesar 14 peso atau Rp. 3.400 saja. Bandingkan dengan rencana tiket MRT Jakarta yang sebesar Rp. 35.000 sekali jalan. Manila juga memiliki angkutan khas yang mereka sebut Jeepney (gambar pertama). Angkutan ini mirip angkot di Indonesia tapi agak besar. Seperti halnya saudaranya di Indonesia, Jeeepney juga bisa berhenti sesuka-sukanya.

Manila 13 056Intramuros. Sama seperti Jakarta, Manila sebenarnya tidak cukup banyak memiliki atraksi wisata yang menjadi daya tarik. Satu dari sedikit itu adalah Intramuros. Intramuros adalah distrik tertua dan inti bersejarah Manila, ibukota Filipina. Dikenal sebagai Walled City karena sedemikian kecilnya. Intramuros adalah pusat pemerintahan Spanyol selama periode kolonial Spanyol. Bagian tembok Manila disebut intramuros, yang dalam bahasa Latin berarti “di dalam dinding”, distrik luar dinding dirujuk sebagai Extramuros dari Manila, yang berarti “di luar tembok”. Pembangunan tembok pertahanan dimulai oleh Spanyol pada abad ke-16 akhir untuk melindungi kota dari invasi asing. Kota berdinding 0,67 kilometer persegi (0,26 sq mi) pada awalnya terletak di sepanjang tepi Teluk Manila, di selatan pintu masuk ke Sungai Pasig. Para reklamasi selama awal abad ke-20 dikaburkan dinding dari teluk. Menjaga kota tua adalah Fort Santiago, yang terletak benteng di muara sungai. Intramuros rusak parah selama pertempuran untuk merebut kembali kota dari Tentara Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia Kedua. Rekonstruksi dinding dimulai pada tahun 1951 ketika Intramuros dinyatakan sebagai Monumen Sejarah Nasional, yang berlanjut hingga hari ini oleh Administrasi Intramuros (IA). Di dalam kompleks intramuros berdiri kathedral tua yang berulang kali harus dibangun ulang karena gempa bumi atau kebakaran. Anda cukup berjalan kaki untuk menjelajahi Intramuros ini. Namun kendati dijadikan icon wisata Manila, Intramuros tidak cukup terawat. Turis asing bisa terlihat tapi tidak terlalu banyak. (source : wikipedia).

Tata Kota. Tidak seperti kota-kota besar lain, penamaan kota/distrik di Manila ini agak unik. Metro Manila sendiri sebenarnya terdiri beberapa distrik. Mereka menyebut distrik itu sebagai city. Ada Manila City, Makati City, Pasig City, Quezon City, Caloocan, Las Pinas, Malabon, Mandaluyong, Marikina, Muntinlupa, Navotas, Paranaque, Pasig, Pateros, San Juan, Taguig dan Valenzuela. Kendati dibilang City sebenarnya luasnya hanya setara dengan kecamatan di Jakarta, bahkan ada yang lebih kecil lagi. Dari sekian banyak district itu, Makati City merupakan Central Business District dengan tata kota paling rapi. Di Makati inilah berdiri kantor-kantor jangkung, hotel berbintang, shopping mall, dan tentu saja banyak apartment. Makati ini memang distrik yang dikembangkan khusus oleh pengembang di sana, jadi sangat berbeda penampilan dibanding dengan distrik-distrik lainnya.

Bahasa Tagalog. Tagalog merupakan bahasa nasional Philippines, tapi bahasa Inggris juga cukup luas digunakan terutama di perkotaan. Beberapa kata ternyata sama dengan Bahasa Indonesia, ada yang sama persis sesuai artinya atai memiliki arti berbeda. Ada baiknya memahami beberapa kalimat sederhana berikut :

  • Magandang umaga po (Selamat Pagi)
  • Magandang tanghali po (Selamat Siang)
  • Magandang Hapon Po (Selamat sore)
  • Magandang gabi po (Selamat malam)
  • Kumusta po kayo (Apa kabar)
  • Mabuti po naman (Saya baik2 saja)
  • Tuloy po kayo (Silakan datang lagi)
  • Salamat po (Terima kasih)
  • Maraming salamat po (Terima kasih banyak)
  • Opo/oho (Ya)
  • Hindi po/Hindi (Tidak)
  • Hindi ko po/ho alam (Saya tidak tahu).

Berlanjut…

14 thoughts on “Tiga malam di Manila. Seru juga”

  1. pak…
    kalau saya akan tinggal dg teman saya selama liburan,apakah perlu invitation letter?
    karena rencanya saya hanya 3 hari di manila dan 4 hari lagi saya akan keliling dg teman saya yg berdomisili di sana.

    1. Gilang,
      Philipines bebas visa. Gak perlu invitation letter. yg perlu dicatat alamat rumah teman, kali2 ditanyakan oleh imigrasi

    1. Hi Cieta, dari pengalaman saya berkali2 ke luar negeri, selama ini saya belum ditanyakan tiket balik. Ya kalau ditanya jawab saja, belum ada kepastikan tanggal kembali atau jawaban lain

  2. Pak Toto ngga pakai tour guide ya?saya rencananya maret thn depan mao kesana, untuk 2 malam, menurut saran bapak gmn?

      1. bapak nginap dimana dan tarifnya berapa per malam. berhubung saya muslim mencari makanan halal muslim gampang nggak?

      2. Zafri, saya tinggal di Holiday Inn Makati City, kira2 110 USD. Untuk makanan, memang perlu extra jeli, karena jarang yang mencantumkan label halal.
        Cara sederhana dengan melihat menu-nya lebih jeli, atau ke fast-food.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s