Terbawa ke jaman kolonial di The Phoenix Hotel Yogyakarta

2 hari jelang Idul Fitri 1433H, dalam perjalanan mudik ke kampung halaman saya menyempatkan untuk singgah terlebih dulu di Jogja. Bagus juga untuk bermalam di kota kesayangan saya ini sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung halaman. Dan kali ini saya memilih The Phoenix Hotel untuk pertama kalinya. Sebelumnya saya sedikit enggan tinggal di hotel ini jika sedang berada di Jogja mengingat The Phoenix adalah hotel tua dan terkesan sedikit angker. Hotel kelolaan MGallery masuk dalam jaringan Accor Group. Melalui travel online, saya mendapatkan tarif sangat murah untuk tinggal di hotel bintang 4 ini. Lokasinya sangat strategis karena hanya sepelemparan tumbak dari Tugu yang terkenal itu. Cukup dekat dari stasiun Tugu dan berada di kawasan kelas satu-nya Jogja. Sebelum pergi saya sedikit mencari tahu tentang hotel ini dan akhirnya saya memesan kamar dengan balkon menghadap taman. Kesan yang terbentuk sebelumnya langsung berubah saat saya memasuki lobby hotel ketika check-in. Dan inilah bagian tertua hotel ini yang disamping digunakan untuk resepsionis juga dimanfaatkan untuk restoran dan beberapa ruangan untuk manajemen. Dan berikut selengkapnya.Benar memang, hotel ini memiliki sejarah panjang ternyata. Berdiri sejak tahun 1918, kemudian berubah nama menjadi Spledid pada tahun 1930. Hotel ini kembali berubah nama saat pendudukan Jepang pada tahun 1942. Setelah Jepang menyerah hotel ini kembali ke tangan Indonesia. Sejarah tampaknya sangat kental dengan hotel heritage ini karena Presiden Soekarno  sempat berkantor sementara di hotel ini ketika ibu kota Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta yang saat ini hotel ini berubah nama menjadi Hotel Merdeka. Nama Hotel Merdeka bertahan cukup lama yakni hingga 1987. Setelah dilakukan renovasi pada 1993, hotel ini resmi berganti nama menjadi Hotel Phoenix Heritage. Selanjutnya pada 2003, manajemen hotel ini dikelola oleh Accor Group. Perubahan pengelolaan ini dibarengi dengan renovasi besar-besaran pada hotel ini. Pada 14 Mei 2004, nama Hotel Phoenix Heritage diubah menjadi Grand Mercure hingga 29 Maret 2009. Pada 30 Maret 2009, nama hotel Grand Mercure kembali menjadi The Phoenix Yogyakarta hingga sekarang.

Kalau Anda pernah menginap di hotel seangkatan The Phoenix Hotel ini, seperti Majapahit Hotel Surabaya, mungkin ada mendapati kesan yang kurang lebih sama. Arsitektur kolonial sangat kental, atap tinggi, lantai dari marmer kuno. Kesan heritage juga diperkaya dengan barang-barang antik yang dipajang. Lukisan-lukisan kuno masih menempel di beberapa bagian. Hotel pun lebih mirip sebagai galery seni. Bangunan hotel ini terdiri dari beberapa blok. Bangunan tertua yang terdapat di paling depan digunakan sebagai lobby tadi, sedangkan kamar-kamar yang berjumlah 144 berada di bagian belakang dengan bangunan yang sedikit lebih muda. Antara bangunan lobby dan kamar dipisahkan taman kecil dengan air mancur di tengahnya. Restoran ditempatkan di belakang resepsionis dan sebagian mengambil tempat terbuka di taman tadi. Yang unik untuk mencapai kamar hotel harus melewati pintu yang sepertinya masih asli terlihat dari gagang pintunya. Untuk mencapai kamar di lantai atas para tamu bisa menggunakan tangga melingkar namun juga disediakan lift. Perhatikan juga di kiri kanan lorong atau selasar, selalu ditampilkan benda-benda antik sebagai pajangan.

Lalu bagaimana dengan kualitas kamarnya? Jangan kuatir, kamar hotel ini tetap menggunakan fasilitas baru, hanya mebelair menggunakan desain antik. Tidak ada kesan kuno pada kamar mandi, baik wastafel ataupun showernya, bahkan shower menggunakan model rain fall. Ruangan kamar mandi dipisahkan dengan kaca tebal seperti pada hotel-hotel baru sekarang. Kesan kuno juga tidak terlihat pada TV karena disamping sudahkan menggunakan layar datar juga dilengkapi dengan banyak saluran internasional. Peralatan terbaru juga digunakan untuk restoran. Lantai kamar tidak berkarpet tapi dilapisi ubin teraso mengkilat.

Satu hal menarik tinggal di hotel ini adalah suasananya. Sepertinya hotel ini sangat diminati oleh tamu-tamu barat dan jumlahnya cukup terlihat. Dan dari sekian hotel yang pernah saya tinggali di Jogja, pada hotel inilah tamu bule terlihat paling dominan. Meskipun berada di jantung kota, begitu berada di dalam hotel tidak terdengar bising dan hiruk pikuk di luar. Tamu bisa bersantai dengan duduk di taman dengan bangku kayunya atau menikmati kolam renang. Kesan Jogja dibalutkan dengan keramahan khas Jogja oleh pegawai-pegawainya. Nikmati juga alunan gamelan langsung yang menemani tamu saat sarapan. Paduan arsitektur kolonial, koleksi-koleksi antik dan banyaknya tamu bule ini yang membawa pikiran seaakan berada di jaman kolonial. Alhasil, saya sangat senang tinggal di sini dan suatu saat saya akan kembali ke hotel ini lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s