Menjelajahi Bangka, negeri Serumpun Sebalai

Serumpun Sebalai adalah semboyan propinsi Kepulauan Bangka Belitung yang menunjukan bahwa kekayaan alam dan plularisme masyarakat propinsi ini tetap merupakan keluarga besar komunitas (serumpun) yang memiliki perjuangan yang sama untuk menciptakan kesejahteraan, kemakmuran, keadilan dan perdamaian. Propinsi hasil pemekaran Sumatera Selatan ini memiliki 7 daerah tingkat II, 5 di pulau Bangka dan 2 lagi di Belitung. Disamping sudah terkenal dengan penghasil lada, tambang timahnya propinsi ini sejatinya menyimpan potensi besar untuk wisatanya. Belitung sontak menjadi populer setelah film Laskar Pelangi, dan memiliki pantai-pantai yang indah. Begitu juga dengan Bangka, gabungan antara keindahan alam, wisata sejarah dan kuliner cukup untuk menjadikannya segera masuk dalam daftar destinasi wisata yang layak dikunjungi. Kepulauan ini juga diuntungkan dengan kedekatan jarak dengan Jakarta, dengan jarak tembuh penerbangan hanya 1 jam. Posisinya juga menarik karena kepulauan ini juga cukup dekat dengan pasar wisatawan regional, Singapore & Malaysia. 24 Feb 2012 ini untuk pertama kalinya saya mengunjungi Bangka, dan inilah sebagian ceritanya : 

Kendati sudah mulai populer, kesediaan informasi wisata Bangka ternyata tak cukup banyak tersedia di internet. Hanya informasi penerbangan dan hotel yang mudah dicari sedangkan informasi tentang tempat wisata dan bagaimana menjangkaunya yang cukup sulit didapat. 

Jumat, 24 Februari 2012, pesawat yang saya tumpangi dari Jakarta mendarat pukul 3 siang saat cuaca cerah hingga masih terlihat tanah-tanah bekas galian tambang timah. Panas terik Bangka menyambut saya. Hanya 1 pesawat terlihat saat itu di bandara Depati Amir. Terminal kedatangan cukup sempit menurut saya, hanya ada 2 conveyor belt bagasi, itupun dalam posisi lurus saja, tidak melingkar sehingga koper-koper yang dilewatkan harus jatuh di ujung. Terang saja sesak menyambut di terminal kedatangan dengan luas yang tak seberapa itu, kendati hanya 1 penerbangan datang. Dengan menggunakan mobil sewaan saya berbegas menuju ke hotel yang terletak sangat dekat dari bandara. Dan tak mau membuang-buang waktu, setelah check-in penjelajahanpun dimulai. Pantai Parai yang terletak di kabupaten Sungailiat menjadi bidikan pertama. Untuk sampai ke sana perjalanan sekitar 30 km harus dilewati dengan jalan yang cukup mulus. Pantai Parai ini sebenarnya dikelola oleh swasta dan menyatu dengan resortnya. Pantai Matras di sebelah Parai dapat dikunjungi oleh umum. Beruntung saya, saat itu pantai sedang surut sehingga hamparan pasir lembutnya bisa dinikmati hingga kejauhan di laut. Lebih beruntung lagi karena air lautnya cukup bersih, karena menurut informasi pada saat-saat tertentu air di pantai ini berwarna kecoklatan terkontaminasi dengan air buangan tambang timah. Pantai Matras & Parai ini bukan satu-satunya pantai berbibir landai yang dimiliki kabupaten Bangka, masih ada pantai-pantai indah lainnya di belinyu (foto : salah satu sudut pantai Matras).

Setelah puas menikmati pantai Matras & Parai sayapun kembali ke Pangkalpinang untuk makan malam. Saya pilih makanan laut, dan restoran Seafood ‘Mr Asui’ sulit dilewatkan. Restoran seafood ini sangat terkenal dan menjadi tujuan para petinggi dan pesohor jika datang ke Bangka. Untuk masuk restoran harus melewati gang kecil. Sebelum memasuki restoran saya lihat ada 2 bus wisata ukuran sedang di parkir di mulut gang. Geliat wisata Bangka. Menutup hari dengan santap seafood Mr Asui menjadikan hari pertama menjadi sempurna.

Hari kedua diisi dengan perjalanan ke Muntok, orang lokal lebih sering menyebut Mentok. Muntok sudah ada dalam daftar yang perlu dikunjungi bukan karena sudah saya kenal dari jaman SD dulu sebagai penghasil timah, tetapi juga menyimpan tempat-tempat menarik. Untuk menuju Muntok saya harus berkendara sepanjang 125 km, cukup jauh memang. Jarak sejauh itu dibantu dengan jalanan yang sangat bagus. Tidak banyak yang bisa dilihat di sepanjang jalan kecuali adanya kota-kota kecil seperti Kelapa dan dihiasi dengan perkebunan terutama kebun sawit. Pelabuhan ferry ke Palembang juga terletak di kota ini. Muntok sendiri sudah berkembang sejak jaman kolonial dulu, terlihat dari beberapa bangunan peninggalan jaman kolonial. Beberapa bangunan sudah direnovasi dan digunakan untuk kantor pemerintah kabupaten Bangka Barat. Rumah Mayor China, seperti tampak di foto, juga termasuk dalam bangunan cagar budaya. Sayang sekali saya tidak memasuki bangunan ini, hanya tampak dari luar bangunan dengan pilar-pilar kokoh ini masih cukup terawat.

Bangunan lain di Muntok yang tidak boleh dilewatkan adalah mercusuar peninggalan Belanda, dibangun pada tahun 1862 dan masih berfungsi hingga sekarang. Lokasi mercusuar sangat dengan pelabuhan Tanjung Kalian yang dikelola ASDP. Dan bangunan menjulang tinggi ini memiliki struktur beton dengan anak tangga sekitar 190-an, seperti terlihat di foto pertama. Pengunjung dengan seijin penjaga berkesempatan untuk memasuki dan menaiki mercusuar dengan struktur beton ini. Jika Anda mengunjungi mercusuar jangan lewatkan untuk memasukinya dan nikmati pemandangan laut yang dapat dilihat dari lubang pemantauan (seperti di foto). Karena mercusuar ini masih difungsikan maka pengelolaannya lebih sebagai alat navigasi dan berada di dinas perhubungan setempat, bukan berada di bawah dinas pariwisata. Pengelolaan ini yang menyebabkan mercusuar kuno ini tidak tampak sebagai layaknya tempat wisata. Kendati kompleks dalam mercusuar terperlihara rapi, lahan parkir di luarnya masih berupa tanah dan becek jika hujan. Dari halaman luar mercusuar terdapat pemandangan bagus dan juga dermaga Tanjung Kalian terlihat dari sini.

Masih di Muntok, bagi peminat sejarah jangan lewatkan untuk mengunjungi tempat pengasingan Presiden Soekarno yang terletak di puncak Gunung Menumbing. Lokasinya tidak jauh dari Muntok, tetapi agak terpencil. Bangunan ini bisa dicapai dengan mobil melewati jalan sempit dan mendaki dan hanya cukup 1 mobil minibus atau jeep kecil. Setelah melewati pos penjagaan untuk daftar perjalanan dilanjutkan menembus hutan jalan aspal berkelok-kelok. Bangunannya sendiri terletak di puncak bukit. Bangunan ini digunakan Belanda untuk mengasingkan Presiden Soekarno saat Agresi Belanda II. Dalam sejarahnya Presiden Soekarno dimasukkan kerangkeng 12 hari pertama sebelumnya dilepaskan di dalam rumah selama 6,5 bulan. DI dalamnya pengunjung dapat melihat ruang kerja (seperti di foto), kamar tidur, dan juga mobil yang digunakan selama pengasingan. Bangunan ini dibangun tahun 1928 dan tidak beratap genteng tapi berupa beton. Penjaga memberi saya kesempatan untuk saya untuk naik ke atap, dan dari sana dapat melihat pemandangan kota Muntok dari atas gunung. Kendati dengan jalan beraspal lokasinya cukup berat dijangkau, jadi dapat dibayangkan perjuangan Presiden Soekarno saat itu, benar-benar terisolir. Penjaga yang bertugas di sana adalah cicit Pak Joyo yang merupakan pengawal Presiden Soekarno saat itu. Bendera Merah Putih dikibarkan di atap bangunan, dan jika Anda berada di sana luangkan sejenak untuk menghayati pendiri negeri ini.

Setelah hujan lebat reda saya putuskan untuk turun dan melanjutkan perjalanan kembali ke Pangkalpinang melewati rute yang sama sepanjang 125 km. Sesampai di Pangkalpinang sudah menjelang sore dan saya putuskan untuk menuju Pantai Padi, salah satu pantai wisata di Pangkalpinang. Kawasan ini sebenarnya sudah lumayan tertata, terdapat jalan di sepanjang pantai dengan pepohonan rindang dengan suasana yang masih sepi. Tidak terlihat penerangan jalan, sehingga hanya temaram lampu-lampu restoran di sepanjang jalan yang membuatnya sedikit redup. Saya tutup penjelajahan hari kedua dengan santap malam di sini, lagi-lagi seafood.

Selamat berlibur

2 thoughts on “Menjelajahi Bangka, negeri Serumpun Sebalai”

  1. Pantai Pasir Padi lengkapnya, pantai yang mempunyai kekhasan sendiri yaitu bila air surut, kita bisa berjalan ke tengah 1-2 km jauhnya. Tempat mangkalnya anak muda, terkadang bisa dijadikan arena balapan motor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s