Menjemput romantisme Jogja

Ketika itu, tujuan saya menuju Jogja hanyalah untuk mencari keseimbangan dan ingin meremajakan soul. Bagi saya, Jogja adalah tempat yang bisa memberikan ketenangan dan menyajikan warna berbeda. Meskipun mulai terkikis modernitas, budaya Jawa yang masih terasa dan cukup untuk menyegarkan pikiran, melupakan sejenak keangkuhan Jakarta. Paduan alam, gedung-gedung kuno, budaya dan kehidupannya terbingkai menjadi sebuah romantisme. Kali ini saya memilih menumpang kereta-api siang dan tentu saja berhenti di stasiun Tugu, satu diantara stasiun tertua di negeri ini (kini tampak muka stasiun Tugu dicat warna abu-abu). Biasanya saya tidak langsung buru-buru keluar stasiun, duduk-duduk sejenak sekedar menikmati arsitektur megah peninggalan Belanda itu.  Romantisme Jogja bisa dimulai dari sini.

Stasiun Tugu mulai menjadi pemberhentian kereta api sejak tahun 1887. Stasiun Tugu-pun hanya berjarak sepelemparan tumbak dengan jalan Malioboro yang kesohor itu. Jalan searah yang tak pernah membosankan ini menjadi agenda wajib saat berkunjung ke Jogja. Disamping deretan pedagang di emperan pertokoan dengan aneka rupa dagangan, jalan ini juga berdiri Mall Malioboro kendati popularitasnya mulai tergeser oleh Amplas (Ambarukmo Plasa). Toko-toko batik banyak membuka gerai di sepanjang jalan ini, begitu juga jajanan khas Jogja. Masih ada andong, becak yang membuat wajah kota ini berbeda. Dan saat malam tiba, deretan warung lesehan menyulap tampilan Jalan Malioboro. Kendati makan di lesehan membangun suasana berbeda, kadang direpotkan dengan harga makanan yang tak pasti, dan juga pengamen yang seakan setia menyapa tiada henti. Jika ingin pengalaman lebih membumi, cobalah ngopi di angkringan.

Pasar Beringharjo, menyimpan daya tarik sendiri. Di pasar tradisional di jantung kota ini masih ditemui buruh gendong. Tawar menawar dengan bahasa Jawa yang kental juga menarik untuk diperhatikan. Ada keakraban antara pembeli dan penjual. Pasar ini menawarkan aneka rupa dagangan, tapi batik tetap menjadi buruan pembeli luar kota. Jika menginginkan batik kualitas sedang datanglah ke pasar ini sambil menikmati suasana pasar rakyat di tengah kepungan pasar modern. 

Bagi saya, bagian menarik dari Jogja adalah masyarakatnya. Ada kegairahan humanis di sana. Tidak seperti masyarakat kota besar lainnya, mereka lebih bersahabat, lebih ramah dan lebih memanusiakan sesama. Senyum dan sapa lebih murah di sini. Senda dan gurau lebih sering terdengar di sana.  Anda bisa belajar kesederhanaan dan keuletan hidup di sini…. Dan sesuai slogannya ‘Never Ending Asia’, bagaimanapun juga Jogja selalu membuat saya ingin kembali… untuk menjemput romantisme-mu.

Jogja bisa dijangkau melalui :

  • Udara : dari Kuala Lumpur, Singapore, Jakarta, Surabaya, Bandung, Bali, Balikpapan, Banjarmasin, Pontianak, Makassar.
  • Kereta Api : dari Jakarta, Surabaya, Bandung

*Bersambung….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s