Mengapa banyak hotel harus berganti nama?

Awal 2009, banyak media memberitakan pengoperasian kembali Hotel Indonesia yang legendaris itu. Tapi namanya bukan lagi Hotel Indonesia, nama barunya adalah Hotel Indonesia Kempinski. Tambahan kata Kempinski ini karena hotel tersebut kini dikelola oleh jaringan manajemen hotel Kempinski. Bukankah dulu pernah ada juga Hotel Kempinski di Jakarta? Ya, dulu memang ada Hotel Mid Plaza Kempisnki, namun kini hotel yang sama berubah nama menjadi Mid Plaza Intercontinental. Hampir dalam waktu bersamaan, Hotel Ritz-Carlton Bali juga berganti nama menjadi The Ayana Resort and Spa (foto diambil dari website Ayana). Mengapa hotel-hotel itu harus berganti nama?

Pergantian nama hotel seperti Hotel Indonesia Kempisnki ini juga pernah terjadi pada hotel-hotel lain. Di Jakarta, selain HI hotel-hotel yang berganti nama diantaranya adalah Hotel Nikko Jakarta dari Hotel President, Sultan Hotel dari Hilton Jakarta, Le Grandeur Mangga Dua dari Dusit Mangga Dua, Grand Tropic dari Mercure Slipi, Mercure Convention Center dari Hotel Horison. Bahkan jauh sebelumnya, ada Dai Ichi Hotel, kemudian berganti nama menjadi Aston Atrium dan terakhir berganti lagi menjadi Lumire Hotel. Aryaduta Suite Sudirman sebelumnya pernah dikelola Aston.

surabaya-plzhotelDi Surabayapun setali tiga uang, sami mawon. Dulu kita mengenal Hyatt Regency Surabaya, kini sudah berganti nama menjadi Hotel Bumi Surabaya. Hotel-hotel lain di kota ini yang juga berganti nama adalah Surabaya Plaza Hotel dari Radisson Surabaya, Marriot Hotel dari Westin Hotel, Singgasana Hotel dari Hilton Surabaya. Kemudian ada Sommerset Hotel dari Mercure Surabaya. Ada juga yang hanya sedikit berubah nama seperti Hotel Majapahit yang kembali ke nama asalnya, sebelumnya bernama The Majapahit Mandarin Oriental, Grand Mercure Mirama dari Hotel Mirama, INNA Simpang dari Natour Simpang. Kabar terakhir, bekas hotel Ramayana di Jl Basuki Rachmat akan berganti nama Meritus Hotel, kemudian di tahun 2014 berubah menjadi Pullman Hotel. Di Bandung, dulu ada The Chedi, ganti nama dengan Malya Bandung dan sekarang menyandang nama The Padma Bandung.

Mungkin banyak yang belum mengetahui bahwa tidak semua hotel dikelola sendiri oleh pemiliknya. Sebagian pemilik menyerahkannya kepada manajemen hotel, tentu saja dengan perjanjian dan hitung-hitungan bisnis tertentu. Hotel-hotel yang dikelola oleh manajemen hotel itu kemudian dinamai dengan merek dari manajemen hotelnya. Misalnya Group Accor yang memiliki merek seperti Sofitel, Ibis, Mercure, Novotel, All Seasons, Pulman dan juga Formule1. Manajemen hotel lainnya adalah Starwood (Sheraton dan Westin), Kempinski, Pan Pacific, Aston International, Swiss Bellhotel, Hyatt International, dan banyak lagi. Kerjasama antara pemilik hotel dan manajemen hotel itu tentu saja berjangka waktu. Maka saat masa kerjasamanya berakhir, dan tidak diperpanjang, pemilik hotel bisa melakukan kerjasama dengan operator lain lagi. Dan inilah yang menyebabkan hotel-hotel tersebut perlu berganti nama.

Catatan menarik dibalik perubahan nama hotel di Indonesia diantaranya :

  • Hotel Indonesia Kempinski berganti nama karena perubahan operator yang mengelolanya. Alasan yang sama juga terjadi pada Sommerset Surabaya, Aston Atrium.
  • Hotel berganti nama karena pengalihan pengelolaan dari yang tadinya dikelola sendiri kepada jaringan manajemen hotel seperti pada Nikko Jakarta, Grand Mercure Mirama Surabaya, Novotel Hotel Balikpapan yang sebelumnya adalah Hotel Balikpapan.
  • Beberapa hotel yang tadinya dikelola oleh Hilton kemudian membentuk manajemen hotel sendiri, seperti Sultan Hotel, The Ayodya Resort Bali , Hotel Singgasana Surabaya yang sekarang dikelola oleh Group Singgasana. Kasus yang sama juga terjadi pada Le Grandeur Mangga Dua dan Balikpapan yang tadinya dikelola oleh Dusit Thailand. Hotel-hotel yang awalnya dikelola oleh Raddison membentuk jaringan sendiri (Prime Plaza Hotel) yang kini mengelola Surabaya Plaza Hotel (lihat gambar yang diambil dari website Prime Plaza hotels), Kota Bukit Indah Plaza Hotel di Purwakarta, Jogjakarta Plaza Hotel, Sanur Paradise Plaza Hotel, Sanur Paradise Plaza Suites, Bali Dynasty Resort, dan Prime Inn.
  • The Marriot Surabaya Hotel tadinya adalah The Westin Hotel Surabaya. Nah karena Westin merger dengan Starwood yang juga mengelola Sheraton Hotel maka pihak pemilik hotel memutuskan untuk mengalihkan ke manajamen Marriot dengan alasan lokasi Sheraton Hotel Surabaya hanya sepelemparan tumbak dengan hotel tersebut.
  • Beberapa hotel kembali mengelola hotelnya sendiri, dan lepas dari jaringan manajemen hotel karena pertimbangan pasar hotel tersebut. Pemilik Hyatt Regency Surabaya memutuskan keluar dari jaringan Hyatt dengan pertimbangan tamu-tamunya didominasi dari tamu domestik dan kontribusi tamu dari jaringan Hyatt dianggap tidak cukup besar. Alasan yang sama juga terjadi pada hotel Panorama Regency Batam yang tadinya dikelola oleh Sol Elite dengan Nama Melia Panorama Hotel.

Jadi jika suatu saat Anda check-in pada sebuah hotel dan saat bangun pagi sudah mendapati hotel Anda menginap dengan nama berbeda, Anda tidak perlu terlalu heran, apalagi merasa sebagai mimpi.

Catatan lain :

  • 19 Januari 2012, Hotel Nikko Jakarta berubah menjadi Pullman Hotel

6 thoughts on “Mengapa banyak hotel harus berganti nama?”

  1. Jonit dengan management internasional tapi tidk ada perubahan malah pengeluaran lebih besar,itu alasan owner Hotel memutuskan utk tidak bekerja sama dengan management dan juga ocupancy kamar tetap saja tamu domestik yang membuat atau menghdiri event,sementara tamu manca yg di angggap akan bisa di datangkan oleh managemen ternyata tidak berhasil sesuai apa yg di janjikan….

  2. wordpress mas toto menjelaskan pertanyaan saya selama ini, saya kira hotel2 berubah nama karena nasionalisasi hehehe

    1. Andry, karena dimiliki swasta kebanyakan karena pertimbangan bisnis semata. Pengertian nasionalisasi sendiri dulu hotel asing lalu dikuasai negara

  3. Bravo mas Toto, pengamat yang jeli. Hebat juga panjenengan ini. Ane aje yang bininya “orang hotel” nggak kepikiran nganalisis kesitu. Memang ada beberapa point yang ane tahu. Bravo No Blood Face I

    1. Thank Bro…. Ditunggu aja kehadiran ‘The No-Blood Face Hotel’, tapi gak kemersil namanya. Ha…ha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s