Menanti eksotisme Kapuas

menujusiantanPontianak, ibukota Kalimantan Barat ini sungguh merupakan potret sebuah keragaman. Penduduknya berasal dari suku Dayak, Melayu, China Teochew, dan Hakka. Karena terdiri dari berbagai etnis, keragaman tampak dalam budaya mereka, juga terlihat dari makanannya. Agama yang dianut juga  beragam terlihat dari tempat-tempat ibadah yang terdapat di kota ini.

3bahasa21

Keragaman telah menyentuh pada hampir semua sendi kehidupan di kota ini. Bahkan petunjuk di bandara Supadio-pun dipandang perlu untuk diitulis dalam 3 bahasa, Indonesia, Inggris dan China, seperti terlihat pada gambar di samping. Dan setahu saya, belum ada bandara lain di Indonesia menggunakan 3 bahasa untuk petunjuknya.

sampankapuas2Memiliki tipikal kota-kota di Kalimantan, Pontianak juga merupakan kota di pinggir sungai besar, Kapuas. Kapuas seakan membelah kota menjadi dua bagian, seperti halnya Samarinda. Sungai besar itu juga menjadi urat nadi transportasi dari Pontianak ke kota-kota lain di sekitarnya. Kapal, ferry, perahu kecil sudah menjadi pemandangan biasa di sini, bahkan ferry juga tetap digunakan untuk menghubungkan Pontianak kota dengan Siantan, meskipun sudah ada jembatan yang menyambung kedua bagian yang terbelah Kapuas itu. Saya menggunakan ferry ini untuk menuju Siantan, yang hanya berjarak selebar sungai Kapuas itu sendiri. Penumpang perseorangan dikutip 1.400 rupiah sekali jalan. Penyeberangan ini cukup padat terutama diisi oleh truk, mobil, dan para pemakai motor. Bagi yang tidak cukup sabar menunggu bisa menggunakan perahu tempel dengan tarif 1.000 rupiah sekali jalan. Siantan sendiri sebenarnya bagian dari kota lama, dan sudah lebih dekat dengan bekas peninggalan kerajaan Melayu Pontianak. Di sinilah berdiri bangunan Masjid Besar yang juga sering dijadikan salah satu ikon Pontianak. Perjalanan singkat yang cukup menyenangkan.

pelabuhanmencariremisKapuas sudah menjadi bagian dari kehidupan warga Pontianak. Sungai panjang ini, berhulu di jantung pulau Kalimantan, disamping sebagai sarana transportasi, banyak digunakan warga kota menggantungkan rejekinya. Saya lihat beberapa anak kecil mencari remis, binatang kecil, di tepian Kapuas yang menurut pengakuannya hanya untuk dimakan buat keluarganya. Sepertinya mereka sangat menikmati ‘mainan ini’, mencari remis sambil bermain-main. Beberapa dari mereka asyik memancing di sekitar dermaga penyeberangan selepas sekolah, sebagian lagi ikut mengais rejeki dengan jualan koran di sekitar dermaga. Sungai juga dimanfaatkan beberapa pelaku bisnis dengan membuka hotel persis di tepi sungai, beberapa tempat makan saya lihat juga mulai terlihat. Pemerintah kota sendiri juga memanfaatkan sungai ini dengan membuka Taman Rekreasi Air, tapi sepertinya belum maksimal. Oh, ya Alun Alun Kapuas juga berada tepat ditepi sungai.  Meskipun disebut alun-alun tapi luasnya tidak sampai separoh lapangan bola. Alun-alun ini sangat ramai dikunjungi warga, khususnya di akhir pekan.

hoteltepikapuasEksotisme Kapuas sudah terlihat dari liukannya dalam menyusuri pulau ini, setidaknya seperti tampak pada Google Earth, atau terlihat dari pesawat jelang mendarat. Kapuas lebih memberikan romantisme jika malam tiba, apalagi jika cuaca cerah. Diantara suara aliran sungai yang tampak tenang, sesekali terlihat kerlap-kerlip lampu kapal menyusuri Kapuas. Kapuas menjanjikan potensi besar untuk dikembangkan, bukan hanya untuk bisnis tetapi juga dapat menjadi magnet baru bagi dunia wisata di Pontianak. Mungkin Pontianak bisa mengambil inspirasi dari Bangkok yang mampu mengemas sungainya (Chao Phraya River) menjadi salah satu daya tarik wisatanya.  Saya tetap melihat peluang ini ada, karena sepanjang sungai terdapat beberapa tempat yang layak disinggahi, diantaranya Masjid Besar itu. Kapuas juga sudah menjadi bagian tradisi, misalnya tradisi masyarakat di tepian Sungai Kapuas membunyikan meriam karbit menjelang Hari Raya Idul Fitri. Terakhir tradisi ini sudah dijadilkan festival oleh Pemkot Pontianak dan mampu menarik minat pengunjung.

Dengan kemasan yang lebih baik, penataan bangunan di pinggir sungai, dukungan infrastruktur, Pontianak tidak lagi hanya mengandalkan Tugu Katulistiwa dan peninggalan kerajaan lama untuk dijadikan pemikat wisata. Saya tetap berharap suatu saat jika ada kesempatan kembali mengunjungi Pontianak, Kapuas sudah menunjukkan eksotisme yang sesungguhnya.

Baca juga : Mengemas Mahakam, Barito dan Kapuas seperti Chao Praya River di Bangkok. Bisakah?

9 thoughts on “Menanti eksotisme Kapuas”

  1. Asyik Berat baca-baca tentang Pontianak. Sebagai seorang yang disebut “Bule” saya melihat Pontianak dari kaca mata sedikit berda. namun beginilah saya punya tanggapan.

    Kotanya ada beberapa bangunan & gaya kelasik dari abad lama
    Warung kopi Khas seperti “Suka Hati” menyajikan kopi (Kopi-susu es) termasuk paling enak diseluruh Indoneisa! Saya selalu rindu minumnya kalau lama tak sempat kunjung.

    Rama-tama penduduk Pontianak terhadap pekunjung seperti saya…Preman-pun rama sadja…heran aku!

    Pasar-sayur yang menarik & lengkap luar biasa…bisa dapat deaging ular sawak, daging keleluar, aneka macam buah dari hutan & LL.

    Saking besar semangat saya…maka saya siap tawarkan diri jadi tour guide. Saya mantan penduduk 17 tahun disana …tinggal di Jalan Dr Sutomo di Kota Baru…. sering dilihat jogging keliling kota. Tinggalkanya th 95. Banyak memori yang indah.
    Salam sejahtera para penggemar Pontianak yang terhormat.

    Kalau sempat makan tempoyak atau udang galak..ingat saya!

    Salam Hormat,

    Pak “Djimi”

    1. Terima kasih Pak Djimi,
      Oh ya, saya juga sempat mampir kedai kopi Suka Hati, ramai disana. Sayang sekali waktu saya tidak cukup lama, saya harus kembali ke Bandung walaupun masih ingin tinggal beberapa hari lagi. Saya setuju dengan Pak Jim, orang Pontianak ramah-ramah.
      Ditunggu kedatangannya di Pontianak.
      Salam

    2. Halo pak Jim , apa kabar Anda dan ibu ? Sekarang kalian tinggal dimana ? Apa masih ingat saya yg juam arloji di nusa indah ? kalo kebetulan membaca tulisan saya , hub saya di email saya andy.halim77@gmail.com , terima kasih

  2. Waktu di Ponti apakah sempat menikmati makan malam diatas perahu/kelotok sambil menyusuri sungai Kapuas?
    Apalagi kalau menyusuri ke pedalaman dengan ikut kapal akan lebih bagus lagi.
    Menurut informasi sekarang di Samarinda Kaltim ada paket wisata dengan kapal menyusuri sungai Mahakam dari Samarinda sampai ke Melak sekitar 3 hari. Kalo ke Kaltim jangan lupa mampir ke FCA06. Salam

    1. Di Pontianak hanya menyusuri Kapuas yang di sekitar Pontianak saja, sewa perahu klotok, tapi gak sempet makan malamnya. Untuk Mahakam, 6 tahun lalu saya sempet menyusuri Mahakam tapi cuma sampai Kutai Kertanagara. Saya ikut kapal kayu yang ke Melak juga dari Sei Kunjang (smg gak salah sebut). Wah kalau sekarang ada kapal wisata tentu tentu lebih menarik lagi. Untuk Kaltim sih saya masih pengin ke Derawan, Tanjung Redep. Tapi belum tahu kapan……

  3. Wah ternyata Pak Toto sudah jalan2 ke Pontianak jg.
    Pontianak itu kampung halaman saya, tp uda lama bgt saya ga plg. hehehehe..
    mantap nih tulisan bpk.

    1. Benny sepertinya harus lebih sering pulang ke Pontianak, ikut bangun Pontianak, ha…. Kota ini OK juga koq (budaya, alam, kuliner), siapa tahu Kapuas bisa dikelola seperti Bangkok. Thanks sudah nengokin blog saya.

  4. Terima kasih sudah baca. Ponti memiliki potensi untuk dikembangkan. Perlu kerjasama semua pihak, untuk mendatangkan turis, apalagi ada direct flight ke Kuching Malaysia.

  5. Sbg orang Kalbar, saya suka dengan tulisan Abang ini. Pontianak tampak lebih indah. Thanks ya bang. Kalo ke Ponti lagi hubungi saya. Saya antar abang jalan2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s