Bandara International Lombok, gerbang masa depan industri wisata Lombok

Dulu, hanya perlu beberapa puluh menit utnuk menjangkau kawasan Senggigi dari bandara Selaparang Mataram. Namun setelah Selaparang ditutup dan digantikan Bandara International Lombok, untuk sampai ke Senggigi diperlukan lebih dari satu jam. Jarak tempuh lebih jauh untuk menuju kawasan 3 gili (Air, Meno dan Trawangan) yang letaknya lebih utara dibanding Senggigi. Bandara lama (Selaparang) memang sudah tidak memadai lagi, terlalu sempit dan memiliki landasan pacu yang pendek sehingga perlu bandara baru BIL. BIL terletak di kabupaten Lombok Tengah dan berada di sisi selatan sekitar 40 km dibandingkan bandara lama dan seakan menjauhi pusat wisata saat ini. Namun demikian, BIL diyakini bakal menjadi gerbang masa depan industri wisata di pulau Lombok ini. Mengapa?

Wisata Lombok saat ini terkonsentrasi di sisi utara dengan Gunung Rinjani dan 3 Gili-nya. Senggigi juga berada di sisi utara bagian barat. Sementara bagian selatan pulau ini juga menyimpan potensi wisata seperti pantai Kuta dan Tanjung Aan. Sudah lama kawasan wisata terpadu akan dibangun di kawasan selatan yang tidak jauh dari BIL, tetapi terhambat pembangunannya karena mundurnya pengoperasian bandara baru. Kawasan wisata yang dikenal Mandalika Resort berada di sepanjang pesisir Pantai Kuta, Lombok, Nusa Tenggara Barat, diharapkan dapat menghidupkan sektor pariwisata yang ada di Pantai Kuta Lombok tersebut. Foto : sunset di pantai Senggigi.

Bukan tanpa sebab kawasan wisata Mandalika seluas 1.250 hektare digadang dapat menghidupkan industri wisata Lombok. Kawasan yang masih kosong ini memudahkan dalam penataan ruang. Kawasan dengan pantai pasir putih terbentang sepanjang 7,5 kilometer itu sempat terkatung-katung karena mundurnya investor. Kabar bagusnya adalah proyek senilai 27T rupiah ini akhirnya dimulai dengan ground breaking 21 Oktober 2011. Tak tanggung-tanggung kawasan wisata ini bakal dikelola oleh Bali Tourism Development Corporation (BTDC) yang terbukti sukses mengelola kawasan Nusa Dua Bali.  Batalnya investor asing digantikan oleh beberapa investor dalam negeri yakni MNC Group, Rajawali dan Gobel International.

Seusai perencanaan, desain BIL cukup menjadikan bandara ini sebagai bandara international. Penggunaan garbarata yang menghubungkan kabin pesawat dan terminal. Layout check-in counter modern seperti yang di bandara Changi, Bangkok. Di ruang terminal sudah banyak toko-toko pendukung. Namun pengoperasian BIL di Lombok Tengah ini juga menyimpan cerita menarik. Saat saya mendarat di BIL akhir Oktober, bandara ini belum berumur sebulan. Masih tampak gersang meskipun pepohonan sudah ditanam. Beberapa fasilitas tampak kurang perawatan, bahkan toilet di kedatangan beberapa sudah rusak. Lantai bandara di sisi luarpun sama juga dan kotor. Bagi sebagian masyarakat sekitar bandara, pesawat terbang menjadi barang langka yang sebelumnya belum pernah dilihat. Banyak masyarakat sekitar menjadikan bandara sebagai tempat wisata baru, hanya sekedar melihat pesawat mendarat dan terbang. Saya melihat ratusan orang berderet di sepanjang pagar bandara melihat pesawat yang saya tumpangi mendarat. Di hari-hari pertama beroperasi bahkan di sekitar bandara dipenuhi pedagang asongan dengan berbagai jualan. Namun di akhir Oktober itu kondisi bandara sudah lebih rapi.

Akhirnya saya berharap bandara ini mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar dan bukan sekedar menjadi tontonan belaka.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s