Minggu ketiga Juni 2009, koran-koran mewartakan pemerintah Indonesia memberikan fifth freedom traffic right kepada Malaysia. Fifth freedom traffic right yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai hak angkut kelima adalah pemberian hak angkut maskapai asing untuk singgah dan menerbangkan penumpang ke negara lain (bukan kembali negara asal maskapai). Dalam kesepakatan itu Malaysia Airlines mendapatkan hak angkut kelima dari bandara Soekarno Hatta, Ngurah Rai, Sepinggan, Hasanudin untuk terbang ke 4 kota di Australia. Dengan hak angkut ini Malaysia Airlines ini dapat terbang dari Kuala Lumpur singgah di Jakarta/Bali/Balikpapan/Makssar dan mengangkut penumpang dari keempat bandara itu ke 4 kota di Australia. Dalam kesepakatan itu Indonesia juga mendapatkan hak angkut kelima dari Kuala Lumpur/Kota Kinabalu/Kuching untuk terbang ke Amerika Serikat, Timur Tengah, semua negara Asia (minus Jepang). Adakah pengaruh bagi Indonesia? Continue reading
Pernah merasa kesal saat memasuki pesawat (boarding)? Melihat orang berebut masuk pesawat sesegera mungkin kendati sudah diumumkan urutan masuk pesawat oleh petugas darat. Anda kesal harus menunggu di lorong menanti penumpang di depan yang kesulitan memasukkan koper dengan ukuran super besar. Atau tempat duduk Anda sudah ditempati penumpang lain. Ternyata pramugari pesawat juga membenci tingkah polah penumpang seperti ini. Continue reading
Jika mau berlibur ke Bali, warga Bandung biasanya harus terbang melalui Surabaya atau jalan darat ke Jakarta dan nyambung pesawat dari Soekarno Hatta Airport. Dan itu terkadang merepotkan dan perlu waktu lebih lama. Tapi itu dulu, kini warga Bandung bisa mencapai Bali dengan penerbangan langsung, hanya 1 jam 45 menit. Adalah Indonesia Air Asia yang untuk pertama kalinya membuka jalur ini secara langsung. Dan sayapun termasuk orang yang menyambut gembira kehadiran rute baru ini, karena saya sudah merindukankan jalur ini dari jaman Gus Dur dulu. Continue reading
Tak perlu lagi meragukan popularitas Bali bagi wisatawan asing. Bali adalah magnet kuat penarik turis untuk terus datang. Dan inilah penyebab turis yang datang ke Bali juga rata-rata ‘repeater guest’, datang ke Bali bukan hanya sekali. Banyak dari mereka yang selalu rutin berlibur ke pulau ini. Sejatinya dengan kembalinya mereka ke Bali untuk kunjungan kedua dan seterusnya telah menunjukkan betapa kuatnya daya tarik pulau ini. Namun untuk jangka panjang, turis-turis yang rajin ke Bali ini perlu terus ditawarkan sesuatu baru. Inilah tantangan para pemangku kepentingan wisata Bali untuk terus menyajikan menu wisata baru. Kabar bagus telah datang yakni dengan mulai dibangunnya terminal internasional Ngurah Rai Airport. Bali juga membuka kesempatan bagi daerah-daerah di sekitar Bali untuk mengintegrasikan industri wisatanya dengan Bali. Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jogja, Jawa Barat selayaknya ikut memburu turis dari sini, Bali. Jejaring wisata dapat dimulai dari sini. Continue reading
Jelang liburan sekolah atau akhir tahun, koran-koran nasional biasa dipenuhi oleh iklan-iklan paket berlibur. Paket-paket itu dikemas begitu menarik baik untuk liburan domestik maupun ke luar negeri. Destinasi liburan yang ditawarkan kini makin beragam, mulai dari domestik, regional, Asia & Australian, Timur Tengah, Amerika dan Eropa. Harganya bervariasi tergantung lama liburan, pesawat yang digunakan, hotel yang dipilih, dan tanggal keberangkatan. Tawaran yang kelewat banyak memberikan banyak alternatif tapi terkadang menjadi kesulitan saat menentukan pilihan. Nah, kalau Anda punya rencana liburan dan masih bingung menentukan paket tour yang akan dipilih, ada baiknya sejenak menengok tips ringkas memilih paket tour berikut . Continue reading
Bonek atau bondo nekat, julukan populer bagi supporter bola Persebaya. Namun dalam urusan menjaring turis asing, Surabaya sangat serius, jauh dari ‘bondo nekat’ itu. Ya, dibandingkan tentangganya, Bali & Jogja, industri wisata Surabaya seakan berada dalam bayang-bayang popularitas kedua tujuan turis itu. Surabaya dan Jawa Timur sendiri sebenarnya memiliki nilai jual cukup untuk bisa mengejar tetangganya dalam menarik minat turis untuk datang. Bromo sudah cukup populer dan memiliki nilai jual tinggi. Kawasan Malang dan sekitarnya juga layak untuk didatangi turis asing. Sebagai kota industri dan jasa, Surabaya memiliki potensi untuk wisata sejarah, religi, budaya, dan belanja. Infrastruktur kota ini boleh dibilang sangat memadai, Surabaya juga memiliki akses bagus dari kota-kota lain di Indonesia dan bahkan negara-negara kawasan regional. Data terakhir menunjukkan Surabaya & Jatim ‘hanya’ menerima kunjungan turis asing kurang dari 10% dibandinglan Bali. Angka yang kecil dibandingkan dengan potensinya. Kendati industri wisata belum sekuat tentangganya, usaha pelaku industri wisata (pemerintah & swasta) boleh diacungi jempol. Apa yang mereka lakukan?
Publik tanah air belakangan ini diramaikan dengan kasus Manohara yang lepas dari keluarga kerajaan Kelantan Malaysia. Masalah yang seharusnya menjadi ranah pribadi ini akhirnya menyeret publik. Media massa baik koran dan TV meletakkan kasus ini dengan porsi cukup besar sehingga mampu menyita perhatian publik cukup jauh. Ada kekesalan dan menjalar pada nasionalisme. Media massa Malaysia juga mewartakan kasus ini, tentu dengan pro dan kontranya. Padahal, Malaysia dan Indonesia sebenarnya memiliki hubungan sangat dekat, bukan hanya hubungan pemerintah tetapi juga masyarakatnya yang saling mengunjungi antar kedua negara. Banyak turis Malaysia yang berlibur di Indonesia, dan juga sebaliknya. Tapi, akankah kasus ini dapat memengaruhi industri wisata kedua negara? Continue reading
Dulu Bali pernah memiliki airline dengan sentuhan Bali yang amat kental. Namanya Air Paradise International. Airline ini dimiliki oleh pengusaha Bali, Kadek Wiranata. Dengan mengusung misi memajukan wisata Bali, airline ini mengangkut banyak turis untuk mengunjungi Bali yang salah satunya dengan Airbus 310 seperti gambar di samping. Sayang sekali, bom Bali 2 pada 1 Oktober 2005 berdampak pada penurunan penumpang ke Bali dan Air Paradise-pun tak kuasa untuk tetap terbang dan ikut mengubur cita-cita luhur pemiliknya sejak 24 November 2005.