Mengenal manfaat dan risiko reksadana (Reksadana Part-3)

reksadana31Industri reksadana di Indonesia telah melewati masa-masa pasang surut. Investor reksadana pernah melakukan redemption besar-besaran yang mengakibatkan terjadi rush dan menyebabkan nilai aktiva bersih terus merosot. Kondisi pasar finansial, khususnya pasar saham terjun bebas sepanjang 2008 lalu, ini menyebabkan NAV reksadana saham dan campuran ikut-ikutan longsor. Kasus terakhir yang hingga saat ini masih belum tuntas adalah kasus reksadana Artaboga. Reksadana Artaboga sendiri lebih banyak disebabkan oleh kriminal pengelolanya. Reksadana Artaboga ini ternyata dikelola tidak sesuai dengan aturan yang berlaku, dimana portofolionya tidak dikelola oleh Bank Kustodian sebagaimana seharusnya. Dalam kasus terakhir, investor juga mengambil peran karena membeli reksadana tanpa mengetahui bagaimana reksadana tersebut dikelola. Namun, jika Anda membeli reksadana legal (bisa dilihat pada publikasi di media masa), resiko tersebut dapat diminimalkan. Tetap harus diingat adalah produk reksadana memiliki risiko, tidak seperti deposito yang dalam jumlah tertentu ditanggung oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Apa saja risikonya?

Manfaat Reksadana

Sebelum mengenal risiko masing-masing reksanada ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu manfaat reksadana. Reksa Dana memiliki beberapa manfaat yang menjadikannya sebagai salah satu alternatif investasi yang menarik antara lain:

  • Dikelola oleh manajemen profesional. Seperti yang telah ditulis di artikel sebelumnya, reksadana dilaksanakan oleh Manajer Investasi, yakni perusahaan yang memang keahlian dalam hal pengelolaan dana. Peran Manajer Investasi sangat penting mengingat investor individu pada umumnya mempunyai keterbatasan waktu, sehingga tidak dapat melakukan riset secara langsung dalam menganalisa harga efek serta mengakses informasi ke pasar modal. Pilihlah MI yang memiliki reputasi bagus. Informasi ini bisa diperoleh dari media-media dan juga besarnya aset yang dilelola.
  • Diversifikasi investasi. Diversifikasi atau penyebaran investasi sangat penting untuk mengurangi risiko, karena dana atau kekayaan reksadana diinvestasikan pada berbagai jenis efek sehingga risikonya pun juga tersebar. Dengan kata lain, risikonya tidak sebesar risiko bila seorang membeli satu atau dua jenis saham atau efek secara individu apalagi dengan dana terbatas. Don’t put your egg in one basket. Sementara banyaknya pilihan reksadana juga dapat dijadikan diversifikasi untuk investor. Anda bisa berinvestasi di berbagai jenis reksadana sesuai risk profile Anda sendiri.
  • Transparansi informasi. Reksadana termasuk investasi yang well regulated. Pengelola reksadana wajib memberikan informasi atas perkembangan portofolionya dan biayanya secara kontinyu sehingga pemegang Unit Penyertaan dapat memantau keuntungannya, biaya, dan risiko setiap saat. Pengelola Reksa Dana wajib mengumumkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) nya setiap hari di surat kabar serta menerbitkan laporan keuangan tengah tahunan dan tahunan serta prospektus secara teratur sehingga Investor dapat memonitor perkembangan investasinya secara rutin. Anda juga dapat mengunjugi perkembangan NAV ini pada situs infovesta.com. Nah untuk kasus Artaboga, informasi ini tidak dapat diketahui karena memang reksadana ini tidak dikelola transparan.
  • Likuiditas yang tinggi. Agar investasi yang dilakukan berhasil, setiap instrumen investasi harus mempunyai tingkat likuiditas yang cukup tinggi. Dengan demikian, investor dapat mencairkan kembali unit penyertaannya setiap saat sesuai ketetapan yang dibuat masing-masing reksadana sehingga memudahkan investor mengelola kasnya. Apalagi ada aturan dimana MI pengelola reksadana terbuka wajib membeli kembali unit penyertaannya sehinga sifatnya sangat likuid. Tingkat likuiditas ini dipengaruhi oleh jenis reksadana, besar aset yang dikelola, dan juga kondisi pasar saat itu.
  • Bebas Pajak. Setiap Pembayaran atas Penjualan kembali Unit Penyertaan tidak dikenakan Pajak. Pembebasan pajak ini merupakan daya tarik untuk investasi pada reksadana.
  • Biaya Rendah. Karena reksadana merupakan kumpulan dana dari banyak pemodal dan kemudian dikelola secara profesional, maka sejalan dengan besarnya kemampuan untuk melakukan investasi tersebut akan menghasilkan pula efisiensi biaya transaksi. MI yang memiliki aset kelolaan tinggi cenderung lebih efisien dalam hal biaya operasi dibanding MI dengan aset kelolaan rendah.

Risiko Investasi Reksa Dana

Kembali diingatkan bahwa investasi reksadana tetap memiliki risiko disamping potensi keuntungannya. Untuk melakukan investasi Reksa Dana, Investor harus mengenal jenis risiko yang berpotensi timbul apabila membeli Reksadana.

  • Risiko menurunnya NAB (Nilai Aktiva Bersih). NAB suatu reksadana bisa naik turun sesuai dengan harga pasar dari efek-efeknya. Dengan demikian penurunan ini merupakan refleksi dari penurunan harga pasar dari instrumen investasi yang dimasukkan dalam portofolio reksadana tersebut mengalami penurunan dibandingkan dari harga pembelian awal. Penurunan harga pasar portofolio investasi reksadana bisa disebabkan penurunan aset yang dibeli dan salah kelola. Penurunan aset sendiri dipengaruhi oleh banyak hal, kondisi perekonomian makro (tingkat suku bunga, nilai tukar), akibat kinerja bursa saham yang memburuk, penurunan kinerja emiten, situasi politik, dan masih banyak penyebab fundamental lainnya. Sedangkan penurunan karena salah kelola diantaranya kesalahan pemilihan instrument investasi oleh MI dan juga karena pengelolaan yang tidak efesien (salah satunya disebabkan oleh kecilnya aset yang dikelola).
  • Risiko Likuiditas. Dalam kondisi normal redemption reksadana oleh investor dilakukan jarang dan dalam waktu tidak bersamaan. Dalam kondisi ini jika ada investor melakukan redemption dalam jumlah yang tidak besar, maka MI dapat membeli kembali dengan alokasi dana tunai (apapun jenis reksadana selalu dipersyaratkan untuk diinvetasikan pada pasar uang dalam persentase tertentu). Nah jika dalam waktu bersamaan banyak investor yang melakukan penarikan dalam jumlah besar maka MI harus menjual aset-aset tersebut di pasar finansial. Akibatnya jika ini terjadi harga jual aset tersebut akan cenderung turun dan akan mengakibatkan penurunan NAB-nya. Dalam kondisi ini MI tidak dapat dengan mudah untuk mencari pembeli aset-asetnya sehingga ada kemungkinan investor tidak langsung dapat mencairkan reksadananya.
  • Risiko Pasar. Seperti halnya investasi di pasar modal investasi reksadana juga memiliki risiko pasar. Risiko Pasar adalah situasi ketika harga instrumen investasi mengalami penurunan yang disebabkan oleh menurunnya kinerja pasar saham atau pasar obligasi secara drastis. Risiko pasar yang terjadi secara tidak langsung akan mengakibatkan NAB (Nilai Aktiva Bersih) yang ada pada Unit Penyertaan Reksadana akan mengalami penurunan juga. Idealnya investor reksadana juga harus tahu kondisi pasar ini saat ingin membeli atau menjual reksadana. Cara termudah adalah dengan melihat NAB yang dipublikasikan di media, sebab di sana disajikan informasi NAB unit reksadana dalam 7hari, 1 bulan, 6 bulan bahkan 1 tahun sebelumnya.
  • Risiko Default. Risiko Default terjadi jika pihak Manajer Investasi tersebut membeli obligasi atau saham milik emiten yang mengalami kesulitan keuangan padahal sebelumnya kinerja keuangan perusahaan tersebut masih baik-baik saja sehingga pihak emiten tersebut terpaksa tidak membayar kewajibannya. Sederhananya adalah salam sebuar reksadana MI mengalokasikan asetnya pada obligasi dengan rating D (default), atau MI mengalokasikan aset pada saham-saham perusahaan yang berisiko bangkrut. Kunci dari menghindari risiko ini adalah dengan mencari tahu strategi investasi MI, dan ini biasanya dicantumkan di prospektus reksadana.

Resiko berdasarkan jenis reksadanya

Risiko reksadana sejalan lurus dengan peluang retun yang dihasilkan. Secara umum terdapat tiga kelompok risko berdasarkan jenis reksadana.

  • Risiko Rendah. Yang masuk dalam kelompok ini adalah Resadana Pasar Uang, Reksadana terproteksi. Secara empiris urutan menunjukkan besarnya risko dari terkecil.
  • Risiko Menengah, Yang masuk dalam kelompok ini adalah reksadana Pendapatan Tetap, Reksadana Campuran.
  • Resiko Tinggi, adalah untuk reksadana saham dan ETF (Extended Trade Fund). ETF saya masukkan kategori tinggi sebab jika Anda berinvestasi pada ETF, Anda harus menjualnya ke investor lain, bukan ke Manajer Investasi.

Perlu diingat bahwa gambaran resiko-resiko di atas merupakan kecenderungan dan berdasarkan tipikal dari efek-efek dari reksadananya. Namun ada kalanya risiko bisa meninggi yang disebabkan oleh faktor-faktor pasar yang sifatnya kejadian luar biasa.

Baca juga artikel sebelumnya (lihat di Archive April 2009):

  1. Bagian 1 : Mengenal Investasi Reksadana (Reksadana Part-1)
  2. Bagian 2 : Karkateristik dan Jenis Reksadana (Reksadana Part-2)

Artikel selanjutnya :

  1. Bagian 4 akan menyajikan Cara berinvestasi di reksadana termasuk biaya-biayanya.
  2. Bagian 5 akan dibahas Nett Asset Value atau Nilai Aktiva Bersih.
  3. Bagian 6 akan dibahas Unit Link dan perbedaanya dengan reksadana
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s